Drone Bisa Videokan Kawah GA, Infrastruktur, Ternak Dan Aktivitas Lainnya

AMLAPURA – Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hari ini, Rabu (11/10/2017), mulai mengoperasikan drone militer untuk memantau kawah Gunung Agung serta infrastruktur di kawasan rawan bencana (KRB).
Kemarin, Selasa (10/10/2017), tim Drone PT Carita Boat Indonesia, BNPB, dan PVMBG sudah melakukan survei awal untuk take off drone.
Pemantauan lokasi dilakukan dengan menggunakan drone mavic.
Lokasi yang disurvei antara lain Pura Pasar Agung di Desa Sebudi, Selat, Karangasem.
Saat survei tersebut, kondisi cuaca berkabut di posisi koordinat -8’22’14”, 115’30’10” dengan ketinggian 1.579 m.
Survei juga dilakukan di objek wisata Rumah Pohon, Desa Tulamben.
Saat dilakukan pemantauan, kondisi di lokasi tersebut dalam keadaan cerah di koordinat -8’19’6″, 115’34’7″ dengan ketinggian 448 m.
Selanjutnya survei dilakukan di Desa Kubu, Karangsem.
Pemantuan dilakukan saat kondisi cerah di koordinat -8’15’32”, 115’34’38” dengan ketinggian 75 m.
Seperti diketahui, drone merupakan suatu kendaraan udara yang berbentuk seperti pesawat terbang atau helikopter yang dioperasikan tanpa menggunakan awak atau pilot.
PVMBG dan BNPB memakai drone untuk melakukan dokumentasi berupa pengambilan video dan foto di sekitar kawah Gunung Agung.
Ini 10 Fakta Menarik Terkait Drone yang akan memantau sekitar Kawah Gunung Agung:
1. Drone yang bakal digunakan memantau kawah Gunung Agung ini bukan drone biasa.
2. Ini merupakan drone militer yang berukuran jauh lebih besar daripada drone yang umumnya diketahui masyarakat.
3. Untuk menerbangkannya butuh landasan minimal 300 meter.
4. Rencananya hari ini drone militer tersebut sudah mulai dioperasikan.
5. Tiga drone yang akan digunakan antara lain Tawon, KOAK 3.0, dan Multi Roter.
6. Multi Roter digunakan di ketinggian 500 meter
7. Tawon dan KOAK 3.0 untuk ketinggian 4.000 meter dengan jam terbang selama tiga jam. Sementara Gunung Agung memiliki ketinggian 3.031 meter.
8. Selain mengambil foto dan video sekitar kawah Gunung Agung, drone militer ini juga dioperasikan untuk memeriksa infrastruktur, ternak, dan aktivitas di lereng Gunung Agung. Drone akan mengelilingi jalur kawah, jalur merah, atau jalur lahar dingin. Apakah sudah ada keretakan atau belum.
9. Drone juga dipakai untuk mengamati apakah masih ada warga yang beraktivitas di sekitar lereng gunung atau tidak.
10. Kemungkinan drone akan dioperasikan 2-4 hari.
“Enam orang tim drone yang membawa tiga alat drone masih dalam perjalanan menuju Bali. Mereka menggunakan jalur darat mengingat alat-alatnya besar. Diperkirakan malam ini (tadi malam, red) tiba di Bali,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Selasa (10/10/2017).
“Besok (hari ini, red) langsung lokasi take off drone di wilayah Kubu,” tambah Sutopo.
Dengan kemampuan terbang di ketinggian 4.000 meter, drone ini dinilai cukup untuk mengelilingi Gunung Agung.
Direktur Pemulihan Peningkatan Sosial Ekonomi BNPB, Agus Wibowo, mengatakan daya baterai drone KOAK 3.0 bisa digunakan 2-4 jam.
“Drone akan mengelilingi jalur kawah, jalur merah, atau jalur lahar dingin. Apakah sudah ada keretakan atau belum. Mungkin drone akan dioperasikan 2-4 hari. Setelah itu baru bisa dipetakan,” kata Agus Wibowo.
Kepala PVMBG, Kasbani, menyatakan pihaknya memang telah melakukan pengamatan melalui tingkat kegempaan dan tingkat deformasi.
Namun, pihaknya juga perlu melakukan pengamatan secara langsung bagaimana kondisi kawah Gunung Agung.
Tim PVMBG tidak berani mengambil resiko naik ke puncak Gunung Agung, maka diperlukan bantuan drone militer.
“Iya memang sudah ditunjukkan dengan data-data deformasi dan seismik, ini hanya untuk mengkonfirmasikan bagaimana keadaan kawah dan bisa mengindikasikan bagaimana kondisi di dalam tubuh gunung,” kata Kasbani.
sumber : tribun

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *